Sabtu, 07 Juli 2012

something happen


pagi hari, pukul 06.30 aku bangun dari tidur, tak seperti biasanya. Aku merenung memikirkan sesuatu yang terjadi pada malam hari sebelumnya. Ternyata aku mengalami mimpi buruk. Tak tahu apakah itu mimpi buruk atau semacam pertanda. Setelah bangun dari tidur aku pun sempat membacakan Al Fatihah untuk seorang nenek yang hadir di dalam mimpiku.

Dalam mimpiku malam itu, terlihat seorang nenek yang sedang berdiri disampingku. Beliau hanya melihatku, entah kenapa wajahnya tak nampak jelas buatku. Sebelumnya beliau juga pernah mendatangiku. Hanya pada waktu itu aku bahkan tidak tahu apakah aku dalam kondisi sadar ataukah bermimpi. Tetapi malam itu wajahnya beda dari sebelumnya, beliau tampak sangat putih. Seperti bercahaya, dan menatapku. Tapi entah apa yang ingin beliau sampaikan kepadaku, hanya saja sepertinya aku merasakan beliau ingin meminta bantuan kepadaku. Tetapi yang menimbulkan pertanyaan buatku, mengapa harus aku yang beliau datangi malam itu? Dan keesokan harinya, setelah kuhadiahkan beliau Al Fatihah, akupun meneteskan air mata. Bertanya-tanya apakah maksud semua ini?

Kemudian di pagi yang sama akupun bersiap memulai aktifitasku, tapi entah mengapa dalam kepalaku masih saja memikirkan apa yang akan terjadi dan apa yang akan kulakukan. Aku terdiam, sampai aku hampir melupakan tujuanku pada waktu itu. Setelah selesai aku melaksanakan tugasku, akupun iseng online di akun jejaring sosialku, berharap ada seorang teman yang bisa aku ajak bertukar pikiran tentang apa yang terjadi padaku. Ternyata salah satu temanku pun online pada waktu itu.

Kami membicarakan tentang apa yang terjadi, dan akupun menjelaskan semua yang terjadi di mimpiku. Ketika itu aku bertanya pada temanku.
“apa sih maksudnya beliau menghampiriku?”
Dan diapun berkata,
“beliau hanya ingin minta bantuan ke kamu kok”
“beliau ingin kamu menyampaikan kepada cucunya, mungkin cucunya melakukan kesalahan, atau keluarganya yang melakukan kesalahan”
“dan sebenarnya, orang yang meninggal itu tidak benar-benar meninggal, tetapi hanya berpindah alam. Dan beliau pun bisa melihat apa yang dilakukan oleh keluarganya dan cucuya di dunia”

Pada waktu itu temankupun menenangkanku, dia memintaku untuk menyampaikan amanat yang sudah diberikan kepadaku lewat mimpiku kepada cucunya. Dan buatku, amanat itu hal yang wajib untuk disampaikan. Baik itu berita baik maupun berita buruk. Sebenarnya aku sangat takut ketika aku menyampaikan amanat –yang aku sendiripun masih bingung dengan jalan ceritanya- aku takut tidak dipercayai oleh orang lain. Apa lagi dalam hal ini orang yang aku beri tahu adalah orang yang sama sekali belum aku temui secara langsung, kami hanya berkomunikasi lewat telepon terkadang lewat ym dan jejaring social Facebook.

Saat itu aku memberanikan sms kepadanya, aku tidak berani untuk berkata banyak dalam smsku. Aku hanya mengirimkan kata2 singkat yang berisi agar dia berhati-hati dalam bertindak. Dan akupun memberikan alamat facebook serta paswort ku kepadanya, agar dia melihat sendiri percakapanku dengan temanku tentang kejadian mimpi yang aku alami. Selain itu, aku cantumkan nomor telepon temanku supaya dia bisa bertanya tentang apa yang aku alami, karena aku tak bisa bercerita banyak. Aku hanya takut dia tidak mempercayai akan kejadian yang aku alami. Tetapi percaya ataupun tidak itu merupakan keputusan dia. aku hanya berusaha menyampaikan amanat dari neneknya melalui mimpiku.

Dan malam harinya, dia berusaha menghubungiku. Tetapi pada saat itu aku sedang tidak ingin diganggu karena akupun butuh waktu untuk berfikir apa maksud dari mimpi yang aku alami. Selang beberapa menit kemudian aku memberanikan sms temanku hanya untuk bertanya, “what am I suppose to do?” dan dia pun menjawab “tell him”. So, at that time I call him. I tell everything,  and I try to call my another friend, hanya untuk meyakinkan temanku bahwa aku tidak main-main dengan amanat yang aku sampaikan. Akhirnya, akupun menelepon kedua temanku dalam waktu yang bersamaan. Kami ber converence call, membicarakan tentang apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini.

Alhamdulillah, dari pembicaraan kami lewat telepon. Akhirnya dia pun percaya dengan apa yang aku alami. Dan diapun banyak bertanya tentang kejadian-kejadian yang pernah menimpanya kepada temanku. Akupun lega, akhirnya satu amanat telah disampaikan. Tenyata, dari setiap kejadian itu ada hikmah dibaliknya. kita jadi tau dan bisa waspada akan apa yang akan terjadi kedepannya.

***

Tentang kejadian aneh yang beberapa bulan ini terjadi padaku, akupun bertanya-tanya. Apa yang aku lakukan? Amalan apa yang aku baca? Ataukah mungkin aku membaca amalan yang bukan seharusnya aku baca? I was wondering.. akhir-akhir ini memang banyak kejadian-kejadian yang aneh menimpa padaku.

Pertama, aku didatangi oleh seorang nenek yang berbaju motif bunga2 warna oranye dengan mengenakan kain bawahan batik yang khas dipakai oleh orang yang sudah lanjut usia. Beliau mengenakan iket kepala hitam dan kerudung panjang warna putih. Sayangnya wajah beliau tidak terlalu tampak. Dan beliau hanya berdiri disamping tempat tidurku dengan tidak bergerak, hanya berdiri menatapku. Karena ketakutan, akupun menutupi mataku dengan selimut pada waktu itu. Anehnya lagi, mulutku serasa ingin terbuka secara sendirinya. Dan akupun tak bisa berkata apa-apa. Badanku terasa dingin, pundakku terasa hangat dan nyeri. Setelah aku terjaga –entah itu mimpi atau aku hanya berimajinasi, namun jikalau aku berimajinasi, ini adalah imajinasi yang sangat nyata- aku berusaha menghubungi temanku dan memberitahukan kepadanya seorang nenek mendatangiku dan akupun menyebutkan cirri-ciri nenek tersebut. Dan diapun mengakui bahwa beliau adalah neneknya karena dia juga yakin dengan cirri-ciri yang aku sebutkan dan pakaian yang beliau kenakan ketika mendatangiku. Pada saat setelah kejadian itu aku bermunajah untuk selalu membacakan Al Fatihah kepada beliau –meskipun tidak secara kontinu-

Kedua, hari jum’at selang dua minggu dari hari jum’at pertama yang aku kedatangan seorang nenek. Aku seperti dibisiki oleh suara yang sangat familiar untukku. Suara ayahku, ya.. aku yakin itu suara ayahku. Tapi beliau membisikkan sesauatu yang aku sendiri tidak tahu apa maksudnya. Beliau seolah berbisik kepadaku
“ayo, ikut ayah.. ayah tau kamu sudah tidak kuat dengan keadaan seperti ini”
Suara itu terngiang-ngiang ditelingaku, dan aku hanya bisa menangis mendengan suara itu terus menerus. Ketika ketiga kalinya suara itu datang, entah kenapa aku memberanikan diri untuk berkata
“tidak!!”
“aku tahu engkau sayang kepadaku, dan melihatku menderita di dunia ini. Tapi maaf, aku masih belum siap untuk ikut denganmu. Aku masih mempunyai tanggung jawab untuk keluargaku sepeninggalmu”
Setelah aku memberanikan diri berkata demikian, sedikit demi sedikit suara itu hilang dari telingaku. Dan akupun menangis tersedu mengingat betapa merindukannya aku kepada ayahku. Aku sempat menceritakan kejadian ini kepada temanku, tetapi dia menyangkal kalo itu adalah ayahku. “Mungkin itu adalah jin yang suaranya dimiripkan suara ayahmu” katanya. Aku juga sedikit meragukan apakah benar itu ayahku atau hanyalah jin yang sekedar menggodaku. Wallahu a’lam..

Ketiga, suatu malam aku tanpa sengaja melewati sebuah gang yang terletak tak jauh dari alun-alun di kotaku. Waktu itu kami –aku dan mamiku- setelah selesai berbelanja. Kami mengambil jalan singkat untuk lebih mempercepat sampai dirumah. Setelah beberapa rumah kami lewati, tiba-tiba aku seperti merasakan ada sesuatu disebuah rumah kosong yang menarik perhatianku dan mendorongku untuk melihat kearah rumah kosong tersebut. Tapi anehnya aku tidak melihat bagaimana wujud dari makhluk tersebut, hanya merasakannya. Pada waktu itu akupun sempat berhenti sejenak melihat kearah rumah itu. Dan tidak tampak apapun, hanya sebuah rumah kosong tua yang lama tak dihuni. But I believe that I feel it.. sampai-sampai mamiku menepuk bahuku, mengingatkanku untuk segera pulang karena hari sudah malam. –memang pada waktu itu pukul 9 lebih-

Dan keempatnya adalah kejadian yang aku ceritakan diawal.
Entah mengapa Allah mengijinkanku untuk merasakan sesuatu yang aku sendiri sebenarnya tak berharap memilikinya. Kata temanku, ini adalah kelebihan yang Allah berikan. Tidak semua orang diberikan kelebihan seperti yang terjadi padaku. Dan untuk menyangkal kelebihan yang ada pada diriku, akupun mensugesti diri untuk berusaha tidak mencari tahu ataupun melihat maupun merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata yang berada disekitarku. Aku berkata pada diri sendiri “aku tidak punya kelebihan apapun, aku hanya manusia normal yang ingin hidup normal layaknya manusia yang lain”

Semoga dari semua kejadian diatas, Allah selalu melindungiku dari gangguan makhluk tak kasat mata yang ingin menggangguku. A’udzubillahi minasshaithonirrojiim.. Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan yang terkutuk..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar