Jumat, 07 Februari 2014

Fariz Affandi

22 Januari 2014, di Facebook, saya pernah memposting status ini

Mami saya memang kadang-kadang suka kepo. Apa aja, entah itu gara-garanya saya pulang kerumah waktu jam ngantor yang sebenarnya hanya untuk mengambil barang yang tertinggal

"Lho kok muleh?" kata mami dengan setengah kaget

"Enggeh, mau ambil buku rekeningnya sekolah, ketinggalan" jawab saya singkat

"Cair tah?" timpalnya dengan setengah tersenyum

"Hedeehhhh... Duite sekolah kok" jawab saya sambil berlalu pamit dan tak lupa mencium kembali tangannya

"Oohh"

Entah itu karena saya yang sering ketawa-ketawa sendiri kalau lagi baca sms, atau Entah itu karena saya sedang dekat dengan seseorang.

Untuk hal yang satu ini, saya paling wanti-wanti mau cerita sama mami. Alasannya simpel, ketika ada ketidak cocokan saya tidak merasa sebersalah itu sama mami. Karena mami pernah merasa kecewa sekali, dan sayapun berjanji tidak akan membuatnya kecewa untuk yang kedua kalinya.

Singkat cerita, saya sedang melakukan hubungan pendekatan dengan seseorang. Dan butuh waktu yang tepat untuk cerita dengan mami. Nah, kira-kira seminggu yang lalu saya memberanikan diri untuk cerita. Saya ceritakan semuanya, curhat antara ibu dengan anak, banyak hal yang beliau nasehatkan pada saya. Saya anggap itu masukan untuk saya.
Kata mami "Belajarlah dari pengalaman kemaren".
Saya tidak menyangka mami saya sungguhh... Bijak! Memang kami sudah lama tidak saling curhat, dan sesi curhat kemarin adalah sesi curhat yang luarr biasa.

Seperti yang saya utarakan diawal, mami saya kadang terlalu kepo. Setelah tau cerita saya dari curhatan kemaren, mami suka menanyakan pertanyaan yang kadang membuat saya males untuk menjawabnya. Karena itu ditanyakan lagi, dan lagi, dan lagi...

Pagi, setelah bangun tidur, ketika melihat saya membuka sms masuk
"Dia sms?" tanyanya singkat
"Ya" jawab saya singkat

Siang, sepulang sekolah
"Dia sms?" tanyanya lagi
"Ya" jawab saya singkat kemudian menceritakan kronologis kejadiannya

Malem, ketika saya dikamar, setelah mami selesai sholat isya'
"Dia sms?" tanyanya lagi dan lagi
"Ya" jawab saya singkat padat dan jelas
Dan segera saya akhiri dengan memeluk guling sambil berselimut karena pada waktu itu kebetulan udaranya yang dingin dan saya mengantuk

Dan pertanyaan itu ditanyakan berulang-ulang. Pagi, Siang, Sore dan Malam.
sungguh mami saya ini seorang ibu yang perhatian sekali dengan anaknya, dan juga kepo. wkwk... Itulah mami.
Tapi saya merasa sangat bersyukur bisa dapat menikmati waktu berdua dengan beliau, curhat bareng, belanja bareng -biarpun kadang dijalan sempet marah2 an karena perbedaan selera-, tuker-tukeran baju, dan lain sebagainya.

She's the best mom ever, the strongest single parent ever.
Im proud to be her daughter, and im proud to having mom like her.
Love u mom... Until my last breath

Pada saat itu saya memang sedang sebel bercampur sayang dengan mami. satu sisi beliau terlihat sangat kepo dengan ceritaku, satu sisi beliau sangat perhatian sekali sebagai seorang ibu. Dan alenia terakhir adalah kalimat tulus dari dalam hati saya untuk beliau, bagaimanapun itu keadaan mami saya, she's my only one.

Anyway..
Yang ingin saya tulis kali ini adalah tentang seorang pria yang ada dalam cerita di status saya diatas. Fariz Affandi namanya, biasa saya panggil dengan nama Affan. Berawal dari percakapan saya dengan seorang teman lama dari SMA, Icha namanya. Icha menanyakan kepada saya apakah sudah mendapatkan pasangan? sebenarnya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling males saya jawab sedunia. dan dengan tegas saya jawab, belum. kami berbincang-bincang, sampai akhirnya dia menawarkan kepada saya seseorang, Affan. keesokan harinya, icha berjanji untuk mengirimkan foto si Affan untuk saya dengan sebelumnya dia meminta saya untuk mengirimkan foto saya untuk ditunjukkan kepada ibu dari Affan, kata icha. 

"nih dew ftonya, dilihat dulu, jangan terburu-buru. kalau mau lanjut aq kasi kamu no telponnya." kata icha
"oke, ftonya banyak amat cha? wkwk.. ya kenalan dulu lah bukk.." ucapku dengan setengah bercanda pada Icha

tiga foto yang saya jadikan satu biar gak makan banyak tempat. hehe...
"Trus abis itu ngapain cha?" tanyaku
"Ya, kalau aq sih biasanya kalo ngenalin saling tuker foto trus ketemuan trus istikhoroh, udah" jawab icha

Setelah saya lihat fotonya, saya putuskan untuk berkenalan terlebih dahulu. Ngalir aja kaya air. Kalau jodoh syukur, kalaupun belum, ya semoga nanti bisa jadi teman. Kami saling bertukar nomor hp, dengan Icha sebagai perantaranya. Untuk jodoh, saya tidak mempermasalahkan dari mana asalnya. Baik itu kita dapat sendiri, nyari sendiri atau dikenalkan dari orang lain. Bukan berarti, ketika kita dikenalkan dengan orang lain oleh saudara atau teman, itu tandanya kita gak laku? Wahh.. pikiran seperti itu sempit sekali. Bukankah yang namanya rejeki itu datangnya tak diduga-duga? "Min khaitsu laa yahtasib". Jodoh, itupun rejeki. Bisa datang dari arah manapun, bisa datang lewat siapapun. Ketika ada seorang teman atau saudara yang menawarkan seseorang untuk berkenalan, saya rasa mereka peduli dengan kita. Mereka sayang, dan sangat perhatian.

Sms, telpon adalah kebiasaan baru bagi saya setelah berkenalan dengan dia. Saling memberi semangat, saling memotivasi satu sama lain, dan tak jarang saling perhatian satu sama lain. Seperti layaknya seorang yang melakukan pendekatan lah, bias dibayangkan kan bagaimana? ya begitulah.. sudah hampir satu bulanan sms dan telpon, saya memutuskan untuk bertemu. kebetulan pada saat itu memang saya tidak memprioritaskan untuk bertemu, hanya ingin menjenguk ponakan yang baru sembuh dari sakit. bertemu dengan dia adalah bonus. jadi ketika saya sudah berada di Malang, ada saja hambatannya untuk bertemu. Hujan salah satunya. ya.. memang saya datang disaat yang tidak tepat. musim hujan. tapi saya percaya, ketika Allah masih mengijinkan untuk bertemu, maka akan dipertemukan. jika tidak, maka tidak. 3 hari di Malang, masih belum diijinkan untuk bertemu.

hari minggu, sebenarnya adalah jadwal dimana saya harus kembali pulang, karena besok sudah kembali beraktifitas seperti biasa. awalnya kita -saya dan affan- janjian untuk membeli buku di gramedia kalau tidak hujan, tapi cuaca berkata sebaliknya. hujan terus mengguyur malang. ketika hari minggu, kakak mengajak saya untuk keluar, saya pikir untuk sekalian saja saya bawa barang bawaan saya supaya nanti pulang dari MOG langsung turun terminal dan balik ke pasuruan. tak lupa saya pun beli buku yang saya memang sudah list sejak lama. jadi, dengan atau tanpa dia yang ngantar, buku tetap terbeli. 

"Assalamualaikum, dewi lagi sibuk? apa kabar?"
sms darinya tiba-tiba mengagetkan saya yang waktu itu sedang asik pilih-pilih buku di gramedia.

"waalaikum salam, alhamdulillah baik. lagi di gramedia alun-alun nih beli buku yang kemaren pengen dibeli"
jawabku singkat

"yah... padahal rencananya hari ini aq mau jemput dewi sekalian ngajak jalan-jalan. eh gak taunya dewi gak ada"

"nanti abis ini aq langsung pulang kerumah, dr gramedia langsung ke terminal soalnya barangku udah tak bawa semua. gpp, kan masih ada lain waktu. jangan sedih dong. senyum" 
sebenarnya sayapun tidak begitu suka dengan keadaan yang seperti, tapi ya mau bagaimana lagi. 

"maaf ya, giliran dewi di malang aq gbs bikin seneng. :(" sms darinya sigkat

sedih juga sebenarnya, tapi ya seperti yang saya bilang tadi. kalaupun ada kesempatan pasti dipertemukan. 

saya tidak mengira Malang yang sekarang sungguh sangat berbeda jauh dengan Malang yang dulu. setelah dari gramedia, jalanan menuju arjosari muacet buanget. mbak menyarankan untuk pulang keesokan harinya, dan sayapun mikir lama sampai akhirnya sayapun memutuskan untuk pulang besok. jadi, ada kesepatan untuk bertemu dengan dia. tak lama sayapun mengabari dia.

"mo pulang jalanan macet, sepertinya saya pulang besok pagi jam 5"

lama, sms saya tak dijawab olehnya, ternyata dia sedang perjalanan pulang dari malang ke singosari. dan itupun macet.

"alhamdulillah, ada kesempatan buat ngajak keluar dewi. tapi sabar ya, abis maghrib aja aq kesana. baru nyampe rumah soalnya, tp macet banget"

singkat cerita, bertemulah saya dan affan dirumah sodara sepupu saya. setelah ngobrol, kami putuskan untuk keluar. ditengah jalan, dia menawarkan saya untuk ke BNS. karena saya belum pernah mengunjungi BNS maka saya iyakan ajakannya. pergilah kita kesana, dengan ditemani hujan dan kedinginan. haha.. lebay. 

dan sayapun tak mau melewatkan sesi foto-foto di BNS karena memang pada dasarnya saya memang banci tampil. hehe.. 







Terkadang memang saya orangnya tidak bisa menjaga image. Harusnya, ketika kencan pertama, saya jaga image supaya terlihat lebih anggun. Tapi kalau seperti itu, brarti saya berpura-pura jadi orang lain dong? hal yang sebenarnya saya tidak suka. Pretending to be somebody else. Ya, inilah saya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saya miliki. Jika suka, ya terima. Jika tidak, ya.. sudahlah.



Tak lupa saya meminta tolong kepada salah satu pengunjung untuk mengabadikan kebersamaan kami. Entah apa maksudnya, sayapun heran. Hanya saja, saya ingin foto dengan dia, berdua. Itu saja.

Ternyata, semua kejadian memang ada maksudnya. Semuanya ada hikmahnya, mulai dari hujan yang membatalkan kita untuk ketemuan, sampai akhirnya dipertemukan dengan indah di hari minggu dengan kesempatan bertamasya hujan-hujanan malam hari. Dan foto berdua yang ternyata itu adalah foto terakhir kebersamaan kita. Semua ada hikmahnya. Saya diperkenankan oleh Allah mengenal Affan hanya sampai hari minggu itu saja. Karena memang setelah bertemu tiba-tiba tak ada lagi kabar dari dia. Dan saya anggap itu mengandung makna tersirat. Saya sudah siap akan hal ini, karena saya pernah kecewa sebelumnya. Seperti yang saya ceritakan di status saya diatas. Hanya saja, saya masih berusaha untuk mendamaikan dengan perasaan mami. Ibu mana yang tidak kecewa melihat anaknya dikecewakan? Saya pun berusaha tidak terlihat begitu kecewa di depan mami saya. Berusaha sekuat tenaga menjaga hatinya. 

Pasrah, memang jalan satu-satunya ketika ikhtiar sudah dilaksanakan. Pasti akan ada hikmahnya dibalik semua ini. Saya sudah memutuskan untuk tidak lagi menghubunginya selama seminggu, karena memang saya sudah tau jawabannya. Sayapun tak perlu lagi ngoyo untuk menghubunginya, karena biarpun saya tak menghubunginya namun saya masih menganggap dia teman. Dia adalah bonus singkat dari Allah. Saya tetap mendoakan yang terbaik untuknya, berdoa supaya dia segera dipertemukan dengan jodoh yang benar-benar dia inginkan. Now its time to move on, move up, and cheers up. Semangaaatttttttt lagiiii.....!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar