Selasa, 04 Februari 2014

Mari Budayakan Mendongeng (Lagi)



“Kapan terakhir kali kamu didongengin orang tuamu?”

Pertanyaan diatas saya rasa menjadi pertanyaan yang sangat jarang sekali ditanyakan. Karena pada dasarnya hal yang ditanyakannya pun memang tak lagi dilakukan dewasa ini. Kegiatan mendongeng oleh orang tua kepada anaknya memang sangat jarang sekali terdengar. Mungkin hanya sebagian dari beberapa orang tua yang pernah melakukan itu. Alasannya bisa bermacam-macam. Kecapek an, sibuk lembur, terkadang mau dongengin tapi anaknya udah tidur duluan gara-gara si orang tuanya pulang malam, atau malah sebaliknya si anak yang pengen didongengin tapi sayang orang tuanya yang tidur duluan karena kecapek an seharian kerja. Yah begitulah kenyataannya. Pada saat ini.

Inilah mengapa saya terkadang suka dengan beberapa kebudayaan barat. Yang positif, pastinya. Contohnya adalah kegiatan menceritakan dongeng atau hanya sekedar membacakan sebuah buku ketika anaknya hendak tidur. Menurut saya, hal tersebut, very touchfull. Sambil memeluk anaknya, si ayah atau si ibu menceritakan isi yang tertulis dalam buku yang sedang ia pegang. Sungguh bermakna. 

Pada dasarnya kegiatan itu punya banyak sekali maksud dan tujuan. Selain mempererat hubungan orang tua dengan anak, hal tersebut juga dapat melatih indra pendengar anak, melatih mereka untuk lebih banyak mendengar dan memperhatikan dari pada berbicara. Mengajak anak untuk berimajinasi karena sebenarnya imajinasi itu mengalahkan ilmu pengetahuan, kata Albert Einstein (kalau saya tidak salah). Imajinasi juga bisa membawa kita ketempat yang tidak pernah kita jumpai sekalipun. Hebat kan? Ya, hebat. Itu, bisa jadi didapat dari kegiatan dongeng mendongeng lho.. 

Satu lagi kegiatan yang saya suka adalah mencium anak ketika tiba waktunya untuk tidur oleh ayah atau ibu. Biasanya setelah mencium mereka selau bilang “have a nice sleep sweety” atau “I love you”. Simple bukan? Ya, simple, banget malah. Mengucapkan kalimat sayang bagi mereka sudah jadi kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Namun, kegiatan yang sesimple mengucapkan “I love you” tiap malam saja sudah tidak pernah apa lagi dilakukan tiap hari. Saya contohnya, sekedar bilang sayang sama mami, mungkin hanya setahun sekali. Pada waktu beliau ulang tahun. Itupun kalau ketika saya ingat, ketika saya lupa, kalimat “I love you” hanya bisa terucap di dalam hati. Dan melampiaskannya dalam doa tiap lima waktu. Itu saya sih.. 

Nah sekarang, ketika pertanyaan yang sama ditujukan kepada saya 

“kapan terakhir kali kamu didongengin orang tuamu?”

          Dengan enteng saya jawab

“ketika saya SD, saat ayah masih dirumah, belum meninggalkan kami sekeluarga”

Ya, memang, ayah saya dulu pernah menceritakan dongeng kepada saya. Tidak sesering seperti kebiasaan orang luar negeri yang tiap malam sih, tapi tiap kali ayah sempat. Dan sering kali beliau menceritakan dongeng tentang Abunawas. Abunawas, pria asal Persia yang mempunyai akal cerdik dan sangat pintar. Abunawas juga seorang yang humoris, tak pernah memandang susah tiap kejadian yang dia alami. Mungkin istilah kerennya jaman sekarang seperti “enjoy aja”, gitu kali... kira-kira itulah gambaran seorang Abunawas yang saya tangkap dari dongeng yang pernah ayah ceritakan kepada saya. 

Pernah suatu ketika saya tak berhenti tertawa mendengar cerita yang ayah saya ceritakan. Masih tentang Abunawas. Beliau bercerita begini,

“Pernah suatu ketika Raja Harun Al asyid ingin memperluas dan memperindah bangunan istananya. Karena sudah lama bangunan istananya tidak pernah direnovasi”
Sambil tiduran ditempat tidur, saya dan adik saat itu benar-benar menyimak apa yang ayah saya ceritakan. Meski tanpa buku, sepertinya ayah sudah hafal dengan ceritanya. Hebat!

“Nah, didalam istana tersebut ada sebuah masjid yang mau tidak mau akan dipindahkan pula ketika pembangunan istana nantinya.”

“Karena Raja Harun Al Rasyid juga sangat sayang dengan bentuk dan ornament yang terdapat pada masjid, beliaupun jadi bingung dan meminta pendapat kepada Abunawas. Karena pada saat itu Abunawas adalah penasehat Raja Harun Al Rasyid” 

“Kemudian tak lama Abunawas menawarkan sebuah sayembara, Sayembara untuk memindahkan posisi masjid. Dan Raja Harunpun setuju dengan usulan Abunawas. Segera Abunawas mengumumkan sayembara tersebut”

Dengan intonasi suara yang berbeda, ayah seperti menirukan ucapan Abunawas

Sayembara... barang siapa yang dapat memindahkan masjid tanpa ada kerusakan sedikitpun maka akan Raja beri imbalan berupa 50 ekor unta.

“Setelah pengumuman sayembara tersebut, maka banyak rakyat yang mendaftar. Kemudian ketika hari yang sudah ditentukan, tak ada satupun rakyat yang berani maju karena resikonya sangat besar. Memindahkan masjid namun tak merubah bentuk dan interior yang ada dalam masjid. Mana mungkin bisa” ucap ayah.

“Namun, seketika Abunawas maju dan menawarkan diri menjadi peseta. Raja pun heran, mengapa malah Abunawas yang menjadi peserta?”

“Hey.. Abunawas, kenapa kamu yang maju sebagai peserta?” ucap Raja
“Saya ingin mencoba memindahkan masjid itu sendirian Raja” balas Abunawas
“Sendirian?”
“Ya Baginda Raja.”
“Apa kamu sanggup Abunawas?” Tanya Raja sekali lagi
“Ya Raja, saya sanggup. Tapi, ada syaratnya” jawab Abunawas

Ayah adalah pendongen terbaik yang pernah saya kenal, beliau bisa membedakan suara Raja dan suara Abunawas. Ketika selesai menceritakan syarat yang diminta Abunawas, tiba-tiba ayah mempraktekkan sebuah gaya. Entah gaya apa yang dipraktekkan ayah saat itu. Beliau sedikit membungkukkan badan, dan kedua tangan ditengadahkan diatas bahu, lalu ayah melanjutkan ceritanya

“Tolong bantu saya untuk mengangkat masjid itu, dan manaruhnya diatas pundak saya. Supaya saya bisa memindahkannya sendirian” 

Saya dan adikpun tertawa terbahak-bahak dengan polah Abunawas yang diceritakan oleh ayah. Kami berfikir, saya tentunya, mana bisa satu orang memindahkan masjid sendirian? Mana mungkin pula masjid diangkat sekalipun banyak orang yang mengangkat. Sungguh aneh, tapi kata ayah memang benar-benar seperti itulah ceritanya. 

          Buat saya, sesi didongengin ayah adalah momen dimana saya sangat suka sekali. Momen didongengin ayah adalah momen dimana saya bisa berduaan dengan ayah, kadang bertiga dengan adik. Dan setelah saya rewind, ternyata memang momen itu berguna sekali, selain jadi perekat hubungan kami, momen tersebut juga sebagai momen terakhir dimana beberapa tahun berikutnya tak pernah lagi ada cerita atau dongeng dari ayah. At least, saya pernah didongengin, makanya saya menulis ini di blog. Kalau saya menulis tentang suatu kejadian namun tak pernah saya alami sebelumnya, sama halnya dengan omong kosong. Ye gak? Hehe..

          Kembali lagi, buat para orang tua, atau para calon orang tua (seperti saya). Pertimbangkan sekali lagi kegiatan ini, tak perlu tiap malam setiap hari, sesekali juga boleh. Tapi terkadang para orang tua yang canggih lebih memilih membelikan smartphone atau tablet yang telah terinstal aplikasi cerita-cerita, entah itu cerita tentang 1001 malam, cerita dongeng barat, ataupun kisah-kisah nabi. Sama baiknya, namun coba deh bedakan rasanya mendengar cerita atau membaca. Pasti lebih banyak orang yang memilih mendengar cerita, karena sama dengan kita, anak lebih memilih simpelnya. Mereka pengennya dimanja, pengen liat pula seberapa besar orang tuanya sayang dengan anaknya. Memang, rasa kasih sayang tidak diukur dari mendongeng ataupun tidaknya, tapi ketika orang tua yang merelakan waktunya untuk menceritakan dongeng kepada anaknya sekalipun itu cerita singkat, menurut saya itu adalah orang tua yang sayang dengan anaknya. Ngerti gak maksud saya? Hehe..

Jadi...
“Kapan terakhir kali kamu didongengin orang tuamu?”
Atau...
“Kapan anda sebagai orang tua mendongeng untuk anak anda?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar