Sabtu, 07 September 2013

Untitled Story


“sepertinya dia mengalami kelainan pada otaknya akibat benturan keras di kepala ketika kecelakaan itu terjadi”
“kelainan, kelainan apa dok?”
“dia mengalami Short Memory Lost, kehilangan ingatan jangka pendek. Jadi ketika dia melakukan aktifitas, dia tidak akan bisa mengingat kejadian 5 menit yang lalu”
“seperti itukah kedaan kakak saya dok?”
“ya, salah satu cara untuk memperbaiki ingatannya adalah dengan membiarkan dia menuliskan atau merekam apapun kegiatan yang dia lakukan. Dengan begitu dia akan perlahan mengingat kegiatan yang sudah dia lakukan”
Kalimat dari dokter kala itu membuatku miris. Bagaimana seorang kakak yang dulunya pintar dan sukses sekejap bisa menjadi seorang yang tak berdaya. Hanya tape recorder dan sebuah catatan kecil yang selalu dia bawa.
***
07.00              : Bangun pagi
                          Membersihkan kamar
                          Mandi
                          Sarapan pagi
08.00              : Nonton televisi
                          Baca Koran
Dst

Inilah contoh serangkaian kegitan kakakku setiap harinya. Dia selalu mengulang kegiatan yang sama.

Gilang Baskara, usianya yang tak lagi muda namun semangatnya masih menggebu-gebu. Seperti tanpa lelah dia mencari nafkah demi menghidupiku dan kedua adikku. Ketika kesuksesan berada ditangannya, tak sedikitpun terpikir dalam benaknya untuk menikah.
“aku ingin melihatmu lulus kuliah dan sukses, baru setelah itu aku bisa menikah”
Kata itu yang mengingatkanku padanya dan aku tidak ingin mengecewakan kerja kerasnya sedikitpun. Belumlah sampai kak Gilang melihatku sukses, dia terkena musibah yang merenggut kebahagiaan kami. Tidak ada lagi kakak yang buatkan kami sarapan disela kesibukannya yang padat. Kecelakaan yang membuat ingatan kan Gilang hilang perlahan-lahan. Saat itu kejadiannya sangat cepat, kak Gilang dalam perjalanan pulang kerumah. Mobil yang dikendarainya melaju kencang, sehingga ia pun tak menyadari ada seorang kakek yang lalai menyebrangi jalan. Hingga akhirnya dia koma beberapa hari kemudian tersadar tanpa mengenali seorangpun disekelilingnya
“saya dimana??”
“Kak Gilang lagi dirumah sakit, kakak istirahat aja”
“kamu siapa? Gilang? Siapa dia?”
Kalimat itu bagaikan tamparan keras diwajahku, sakit sekali rasanya. Bagaimana tidak, kakak yang selama ini aku anggap sebagai pengganti orang tuaku tak mengenaliku bahkan dia tidak bisa mengingat namanya.
Ohh.. Kakakku...
“ini Alya, Kakak Kak Gilang. Gilang Baskara, kakakku”
“Alya... Gilang Baskara....”
Seperti mencoba mengingat sesuatu tapi kondisi Kak Gilang yang sangat lemah membuatnya mengeluh pusing di kepalanya.
“ok Alya, mungkin kakak kamu butuh istirahat” kata dokter menenangkanku
“ya dok”
“kamu bisa ikut keruangan saya sebentar Al? ada yang harus kita bicarakan”
“ya dok”
Aku masih menahan air mataku ketika berjalan dengan dokter menuju ruangannya. Berat rasanya melihat keadaan Kak Gilang.
“jangan memaksakan kakak kamu untuk mengingat semuanya. Mengingat kamu, mengingat namanya, semuanya. Biarkan dia mengingat semuanya perlahan-lahan.”
“tapi dok....”
“saya tau Al, ini memang tidak mudah. Tapi hanya itu cara yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuknya saat ini”
“percayalah, Tuhan tidak akan tinggal diam. Selama kamu mau berusaha dan bersabar, lambat laun ingatan kakak kamu akan pulih kembali”
“mungkin tidak sepenuhnya, tapi paling tidak dia mengingat lagi namanya, adik-adiknya dan orang-orang yang ada disekitarnya”
“ya dok. Saya berusaha demi kesembuhan Kak Gilang. Saya mau melakukan apapun demi Kak Gilang. Dia satu-satunya kakak yang saya punya. Dia pengganti orang tua saya dok”
Bersambung